bentuk elementer
A.
BENTUK-BENTUK
KEHIDUPAN AGAMIS ELEMENTER
1.
Teori
Durkheimian Awal dan Belakangan
Durkheim adalah “Bapak”
Sosiologi Modern, Durkheim mendapat status “Bapak” oleh salah seorang Teoris
terbesar amerika, Talcott Parsons (1937), dan hal itu mempengaruhi
pandangan-pandangan selanjutnya mengenai Durkheim. Parsons menggambarkan
Durkheim sedang mengalami perubahan teoritis antara suicide dan the elementary
forms. Dia percaya bahwa Durkheim awalnya adalah seorang positivis yang mencoba
menerapakan metode-metode ilmu alamiah
dalam study masyarakat, sementara Durkheim yang belakangan adalah seorang
idealis yang melacak perubahan-perubahan sosial dalam perubahan-perubahan
ide-ide kolektif.
Ada kebenaran tertentu dalam periodisasi
Durkheim, tetapi hal itu tampak sebagai masalah focus daripada perubahan besar
teoretis. Selain itu, Durkheim di dalam periodenya yang belakangan, membahas
secara lebih langsung bagaiman para individu menginternalisasi
struktur-struktur sosial. Argument-argumen Durkheim yang kerap haus sosiologi
secara berlebihan dan menantang psikologi, telah membuat banyak orang
menyatakan bahwa dia hanya memberikan sedikit penjelasan mengenai bagaimana
fakta-fakta sosial mempengaruhi kesadaran aktor-aktor manusia (Lukes 1972:22)
Namun demikian, tujuan akhir Durkheim adalah menjelaskan bagaimana manusia
individual dibentuk oleh faktor-faktor sosial.
2.
Teori
Agama yang Sakral dan Yang Profan
Raymond Aron( 1965:45)
mengatakn tentang The Elementary Forms of
Religious Life bahwa ini adalah karya Durkheim yang paling penting, paling
mendalam, dan paling asli. Randall Collins dan Michael Makowsky (1998:107)
menyebutnya “Mungkin Buku Tunggal Terbesar Abad ke20”.Di dalam buku itu,
Durkheim mengajukan baik sosiologi agama maupun teori pengetahuan.Sosiologi
agama merupakan suatu usaha untuk mengenali esensi agama yang abadi melalui
suatu analisis atas bentuk-bentuknya yang paling primitive.Teori pengetahuan
adalah suatu usaha menghubungkan kategori-kategori fundamental pikiran manusia
dengan asal-usul sosialnya.
Teori Durkheim mengenai
agama.Masyarakat (melaui para individu) menciptakan agama dengan mendefinisikan
fenomena tertentu sebagai hal yang sakral dan yang lainya sebagai
duniawi.Aspek-aspek realitas sosial yang di definisikan sebagai hal yang sacral, yakni terpisah dari hal
kehidupan sehari-hari yang membentuk esensi agama.
Durkheim tidak percaya
bahwa sumber dari perasaan_perasaan agamis itu adalah hal-hal yang bersifat
adialamiah.Durkheim berargumen bahwa agama secara simbolis mewujudkan
masyarakat itu sendiri.Agama adalah sistem simbol-simbol yang melaluinya
masyarakat menjadi sadar atas dirinya. Itu adalah cara satu-satunya yang
membuat dia dapat menjelaskan mengapa setiap masyarakat mempunyai kepercayaan
agamis, tetapi masing-masing mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang berbeda.
Masyarakat menurut Durkheim, di dalam Tuhan dia melihat “ hanya masyarakat yang
di ubah rupanya dan diungkapkan secara simbolis”(Durkheim, 1906/1975:52). Oleh
karena itu masyarakat adalah sumber yang sakral.
3.
Kepercayaan-kepercayaan,
Ritual-ritual, dan Gereja
Perbedaan antara hal yang sakral dan
duniawi dan penaikan beberapa aspek kehidupan sosial kepada level sakral perlu,
tetapi bukan kondisi-kondisi yang memadai untuk untuk perkembangan agama.
Diperlukan tiga kondisi lainnya.Pertama, harus
ada perkembangsn sekumpulan kepercayaan agamis. Kepercyaan-kepercayaan itu
adalah “representasi-representasi yang mengungkapakan hakikat,hal-hal yang
sakral dan relasi-relasi yang mereka pertahankan, baik antara satu sama lain
maupun dengan hal-hal yang duniawi”. (Durkheim,1912/ 1965:56). Kedua, dibutuhkan sekumpulan ritual
adamis.Hal-hal itu adalah “aturan-aturan prilaku yang menetapkan bagaimana
seorang manusia harus membawakan diri di dalam kehadiran objek-objek sakral
tersebut” (Durkheim, 1912/1965:56).Akhirnya,
suatu agama memerlukan sebuah gereja, atau suatu komunitasmoral tunggal yang
melingkupi. Antarhubungan di antara yang suci, kepercayaan-kepercayaan,
ritual-ritual, dan gereja membawa Durkheim memberikan definisi agama berikut
ini: “Suatu agama adalah suatu sistem terpadu kepercayaan-kepercayaan dan
praktik-praktik yang menyatukan semua penganutnya ke dalam satu komunitas moral
tunggal yang di sebut Gereja” (1912/1965:62).
4.
Mengapa
Primitif?
Meski riset yang di
laporkan di dalam The Elementary Forms bukan
milik Durkheim sendiri, karena komitmennya terhadap ilmu empiris, dia merasa
perlu menancapkan pemikirannya mengenai agama di dalam data yang suadah
dipublikasi.Sumber-sumber utama datannya adalah studi-studi berbasis iklan atas
buku Australia, Arunta, yang bagi Durkheim, menggambarkan kebudayaan primitif.
Durkheim ingin mempelajari agama di dalam suatu kebudayaan, “primitif” karena
beberapa alas an. Pertama, dia percya
bahwa jauh lebih muda untuk mendapat wawasan kedalam hakikat esensial agama
didalam suatu kebudayaan primitif karena sistem-sistem ideologis agama-agama
primitif kurang berkembang dengan baik disbanding sistem-sistem ideologis agama
modern, dengan hasil bahwa pengaburannya tidak begitu banyak.
Durkheim mempelajari
agama primitif hanya agar dapat menjelaskan agama yang ada didalam masyarakat
modern.Agama dalam masyarakat nonmodern adalah suatu nurani kolektif yang serba
meliputi.Akan tetapi, ketika masyarakat terspesialisasi, agama semakin
menempati wilayah yang kian sempit.
5.
Totemisme
Durkheim percya bahwa
masyarakat adalah agama, secara khusus dia tertarik kepada totemisme yang ada
dikalangan orang Arunta Australia.
Totemisme adalah suatu sistem agamis yang
didalam benda-benda tertentu, khususnya binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan,
dipandang sebagai hal yang sakral dan sebagai lambing klan. Durkheim memandang
tetonisme terkait dengan bentuk sederhana yang serupa dengan organisasi sosial,
yakni klan. Sebagai studi mengenai agama primitif, seluk-beluk penafsiran
Durkheim telah dipertanyakan (Hiatt, 1996). Akan tetapi, meskipun totemisme bukan agam yang paling primitive,
tentu saja itu merupakan wahana terbaik untuk mengembangkan teori baru Durkheim
yang mengaitkan agama, pengetahuan, dan masyarakat.
Meskipun suatu
masyarakat mungkin mempunyai sejumlah totem, Durkheim tidak melihat totem-totem
itu menggambarkan serangkaian kepercayaan terpisah, yang terpecah-pecah tentang
hewan-hewan atau tumbuh-tumbuhan yang spesifik. Totem-totem adalah representasi
material dari kekuatan non-materialyang mendasarinya, dan daya-daya non-material
tidak lain adalah masyarakat.Totemisme dan Agama secara lebih umum, berasal
dari moralitas kolektif dan menjadi kekuatan-kekuatan impersonal.
6.
Sosiologi
Pengetahuan
Pada awalnya Durkheim
sangat berminat pada pembedaan sosiologi dari filsafat, kini dia ingin
menunjukan bahwa sosiologi dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis yang
paling sulit di jawab.
Durkheim berpendapat
bahwa pengetahuan manusia bukan produk dari pengalaman saja, manusia juga tidak
terlahir dengan kategori-kategori mental tertentu yang diterapkan pada
pengalaman.Sebagai gantinya, kategori-kategori manusia adalah ciptaan-ciptaan
sosial.Karena, manusia adalah representasi-representasi kolektif.
Durkheim menjelaskan
bahwa sosiologi pengetahuan adalah pengetahuan manusia yang sejati di dalam
kerangka kekuatan sosial.
7.
Kategori-kategori
Pengertian
Beberapa kategori fundamental yang telah di
identifikasi oleh beberapa filsuf sebagai hal yang sangat hakiki bagi
pengertian manusia :
1) Waktu
(waktu berasal dari ritme-ritme kehidupan sosial)
2) Ruang
(berkembang dari pembagian ruang yang ditempati oleh masyarakat)
3) Klasifikasi
(terikat kepada kelompok manusia)
4) Kekuatan
(berasal dari pengalaman dengan kekuatan-kekuatan sosial)
Komentar
Posting Komentar